Sunday, May 12, 2013

CERPEN

BERIKANKU SEPARUH WAKTUMU


            Aku sama sekali tak pernah mengira jika mulai semester ini aku akan mendapatkan guru sastra yang baru. Rencananya dia akan menggantikan guru sastra yang lama karena sibuk mengurusi anak – anak kelas XII dan juga dengan kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku bertanya pada temanku yang sudah lebih dulu mengenalnya karena aku telat datang dua hari ke asrama.
            “ Orangnya biasa aja, tapi senyumnya itu, bikin kelabakan!”

            Ah, segitu kah ia?

            Demi mengenalnya, aku yang baru datang tadi pagi pun bergegas berangkat ke sekolah. Kudengar, ia ada jadwal mengajar hari ini.
Kesan pertama yang kudapatkan ketika melihatnya pertama kali, benar saja. Dia bahkan tampak lebih tua dari bayanganku semula. Namun yang tak dapat dipungkiri adalah, senyumnya yang (ah,bicara apa aku ini!), sangat manis sekali!

            Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, tentu saja menurut versiku, karena sudah dua kali ini dia di sini. Rasanya, biasa saja. Bahkan tak mengenakkan bagiku karena hari itu materinya adalah puisi, sesuatu yang paling tidak aku sukai. Selama pelajaran berlangsung aku lebih tertarik untuk berlama - lama melihatnya. Awalnya memang biasa, tetapi coba dekati lebih dalam, tampak sangat jelas indah ayu yang dimilikinya. Terlebih saat ia tersenyum.
           
---------------------**********---------------------
           
            Dia memberi kami tugas membuat sebuah puisi. Aku yang memang tak penah suka puisi, dengan alasan bingung memaknai arti dalam sebuah puisi, selalu saja mengeluh. Naluri kepengaranganku memaksaku untuk memberontak, “Bu, kalo bikin cerpen saya lebih suka daripada bikin puisi!” Dia dengan senyum khasnya menjawab, “Apa bedanya puisi sama cerpen? Toh sama – sama mengarang.” Aku tak mau mengalah begitu saja, “Jelas beda donk, Bu! Cerpen itu bebas, beda jauh dengan puisi.”
Dia tak lagi menanggapi.
            Akhirnya aku tetap saja membuat puisi yang, entah mengerti atau tidak aku akan maknanya. Aku sendiri malu untuk membaca puisiku sendiri. Bisa kuanggap, inilah karya terburukku, mungkin karena aku terlalu menghindari puisi.
            “Sudah selesai?”
            “Sudah, Buuu…!”
            “Oke, sekarang kalian bacakan puisi kalian di depan kelas, ya!” 
            Ya ampun! Membacakan puisi? Ini pasti hanya khayalan! Inilah salah satu bagian dari puisi yang paling aku benci, yaitu membacakannya.
            Dia menunjuk satu persatu murid untuk membacakan puisi masing – masing. Dan kini giliran aku yang kena tunjuk olehnya. Oh, tidak! Apa yang akan terjadi pada diriku? Aku sangat membenci puisi, apalagi mempresentasikannya. Akhirnya aku maju, demi dapat menarik perhatiannya. Dengan tegang aku melangkahkan kakiku ke muka kelas. Aku melihatnya sebentar, berharap ia tak yakin dengan pilihannya. Namun ia malah tampak mantap sekali. Kemudian, kubaca puisi dengan nada yang sangat sangat sangat datar.

KU AKUI

Mungkin ini bukan pertama kalinya
untukku…
Mungkin ini untuk ke sekian kalinya
untukku…
Tapi ku akui…
Ku bertekuk lutut di hadapmu…
Ku harus mengakui keberadaanmu
Sebagai kekasih hatiku…

                Ku cinta padamu…
                Ku sayang padamu…

                                Dan untuk yang ke sekian kali…
               
                Harus ku akui…

                Tanpamu…
                Ku tak berarti…
               
                                Takdir tlah membawaku
                                Pada cinta yang tak terbendung…

Namun sekali lagi…
Harus ku akui…

Ku tak bisa meraihmu…
Dan tak akan pernah bisa…

Karma cinta ini…
Kini tlah pergi…
Dari hati yang sunyi



“Plok! Plok! Plok! …” Dia memberiku applause yang diikuti oleh anak – anak lainnya.

__________###_________


            Sejak saat itu, aku selalu menantikan kedatangn hari dimana ia mengajar. Demikianlah aku selama beberapa bulan kemudian. Aku juga sempat sangat begitu agresif demi dapat mendekati dia. Dan tema yang sering kuambil saat berbicara dengannya pun tak lain adalah cerpen. Sebuah pilihan yang tidak begitu buruk karena dia guru sastraku, sedang aku, cita – citaku adalah saat aku dapat meminang buku karya sastraku sendiri.
            Namun suatu ketika aku pernah menanyakan padanya sesuatu yang sangat jauh dari tema awal. “Bu, kalo perasaan Ibu sedang terusik, apa yang sering Ibu lakukan untuk meredamnya?” Dia menoleh kepadaku, kemudian berkerut sebentar, lalu berkata, “ Emang kamu ada masalah apa? Kalo  ada apa – apa katakan saja. Tidak apa – apa, kok. Kalau ada waktu mungkin kita bisa sharing. Atau kalau kamu mau, kamu bisa telepon aku.”
           

            Aku dengar di sekolah sedang trend bahwa ada beberapa temanku yang gemar membuat lagu. Aku tertarik akan hal itu sehingga membuatku ingin melakukan hal yang sama. Aku juga akan membuatkan sebuah lagu yang nantinya akan kutujukan pada sang Guru itu.

________ % % % % %  ________
           
Semenjak lirik lagu tersebut selesai dibuat, kontan tiap malam aku selalu begadang untuk mencari nada lagu itu. Kadang aku melamun sebentar, kemudian bersiul sendiri mencoba memperagakan bentuk nadanya. Sudah berhari – hari kulewati waktuku, namun aku masih belum juga menemukan setidaknya kunci dasar dari laguku tersebut.
            Ketika aku bertemu dengan guru sastraku, aku langsung memperlihatkan lirikku padanya meski belum jadi secara tuntas.
            “Wah! Ini pasti buat pacar kamu, ya?” Begitu katanya setelah selesai membaca bait lagu itu. Aku hanya tersenyum menanggapinya, ia belum tahu bahwa itu adalah untuknya. “Kalau begitu, sekalian saja kamu tampilkan pada saat Porseni nanti,” usulnya. “Rencana saya memang seperti itu. Tapi masih dua minggu lagi.” Kataku.
            Sebenarnya aku ingin mengatakan ‘tinggal’ dua minggu lagi. Sebab tak mungkin dengan waktu segitu aku yang hanya seorang amatiran ini dapat memperoleh nada dari laguku itu secara keseluruhan. Akhirnya tak ada jalan lain bagiku selain berpikir lebih keras untuk menyempurnakan lagunya. Aku terus merenung, berpikir, bahkan berdengung sendiri mencari – cari nada.
Setelah berhari – hari lamanya akhirnya aku berhasil menemukan nadanya seminggu menjelang Porseni dimulai. Dan dalam sisa waktu seminggu terakhir itu, kugunakan waktuku untuk memantapkan lagu ciptaanku sendiri itu.

           
Hari H pun tiba. Hatiku berdebar tak sabar ingin segera menyanyikannya. Dalam benakku, sama sekali tak terlintas bagaimana aku memenangkan lomba. Yang ada hanyalah bagaimana aku bisa menyanyikannya dengan baik sehingga isi hatiku dapat tersampaikan.
            Sang pembawa acara telah sejak tadi membuka acaranya. Ia sudah lama berada di atas panggung dan tak henti – hentinya berbicara segala hal mengenai perlombaan menyanyi ini. Guru sastraku juga ada di sana sebagai komentator sekaligus juri dalam lomba kali ini.

            Satu – persatu para peserta ditampilkan hingga saatnya,,
            “Peserta selanjutnya, dengan nomor urut delapan. Langsung saja kita panggilkan, Uki…!”
            “Plok! Plok! Plok! …” Sorak sorai penonton bergemuruh di udara begitu namaku selesai dipanggil. Tepuk tangan semakin keras saat aku tiba di atas panggung,
            Aku diam sejenak, kupandangi para penonton termasuk dewan juri. Ku awali penampilanku dengan sedikit kalimat pembuka. “Lagu ini gue ciptain, khusus untuk seseorang sebagai ungkapan terima kasih karena dia udah hadir di kehidupan gue. Dan gue berharap, semoga dia akan terus memberikan separuh waktunya buat gue. Persis dengan judul lagu yang akan aku nyanyikan untuknya. Berikanku Separuh Waktumu.” Penonton semakin semarak. Sampai di sini, semua masih dalam kendaliku, termasuk membuka penampilanku dengan sebuah pidato singkat.

            Ketika lagu memasuki bagian intro semua masih baik – baik saja. Namun petaka mulai ku rasakan saat aku mulai menyanyikan bait pertama. Aneh, lagu yang telah aku konsentrasikan sebelumnya kini mendadak lenyap!

Dirimu kau terindah
Yang menemaniku
Hadirmu takkan pernah
Tergantikan di hatiku
            Kau bahagiaku yang
            Jadikanku berarti
            Di saat ku kan mati
            Dan tak mampu tuk berdiri
Kau mampu…
Bangkitkan ku…
Dari ketiadaanku…

            Harapkan kau selalu
            Hampiri diriku
            Meluangkan sejenak
            Waktumu tuk diriku
Jangan  pergi
Dari sisiku
Hilang  dariku
            Dan ingin   ku
            Kau kan terus bersamaku
            Temani aku yang
            Hampa  tanpa hadirmu
Ingin   ku
Kau kan terus ada
Di hati   ku
            Berikan   aku
            Separuh  waktumu

Berikanku Separuh Waktumu


            Semua menjadi kacau! Tidak ada nada yang benar keluar dari mulutku. Hanya kalimat terakhir saja yang benar yang kuambil sebagai judul laguku.
            Aku turun dengan perasaan sedih. Penonton yang baru pertama kali mendengarnya mengira bahwa memang seperti itu lah lagunya. Mereka tetap saja bertepuk tangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tetap bergembira karena merasa terhibur dengan adanya pertunjukkan musik.

            “Akhirnya aku tak dapat mengungkapkan isi hatiku…”

            Dalam hati aku terus menyesalkan apa yang telah terjadi barusan. Bahkan sampai akhir perlombaan pun aku masih tetap bersedih, hingga akhirnya sang Guru pun memergokiku di sudut taman sekolah yang sedang meratap.
            “Kamu kenapa? Lagu kamu tadi bagus, lho!” Katanya.
            Aku terperanjat, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tetap menganggap bahwa laguku bagus.
            “Apa menurut Ibu begitu?” Tanyaku.
Emang menurut kamu gimana?”
Aku diam sejenak. Ia benar – benar tak mengetahui bagaimana yang tejadi.

Barusan aku tidak seperti orang yang sedang bernyanyi,” ungkapku. “Lho, kenapa?” Ia menyelaku. “Kenapa!? Apa Ibu tahu, yang barusan tadi seperti bukan suaraku. Suaraku tadi benar – benar hancur!”
“Kata siapa? Suara kamu bagus, kok! Buktinya, tadi tepuk tangan penonton ramai sekali.” Dia mencoba meyakinkanku. “Sudahlah, yang penting penonton senang. Toh memang bagus,” hiburnya.
“Tapi itu kan mereka, mereka nggak tahu yang sebenarnya. Mereka tidak tahu apa – apa tentang lagu itu. Tadi aku tidak bisa mengeluarkan nada yang sesungguhnya dari laguku tadi.” Aku melanjutkan, “Dan yang terpenting, orang yang ingin aku persembahkan atas lagu itu tidak tahu maksud hatiku. Aku gagal menyampaikan perasaanku pada seseorang, aku telah gagal!”

Kami hening untuk beberapa lamanya, kemudian, ”Tidak apa, yang penting kamu sudah berusaha. Pasti dia tahu, kan kamu sendiri yang mengatakannya di bagian awal tadi. Orang yang selama ini ada di samping kamu pasti akan  menyadari hal ini. Tak perlu mengatakannya sekali lagi secara langsung pun pasti dia akan tahu karena kalian sering bersama – sama.”
Aku sempat terhibur oleh ucapannya, dia sangat bijaksana sekali. Tapi tetap saja tidak dapat mempengaruhiku karena ia belum tahu bahwa lagu itu merupakan gambaran kehidupanku dengan dia. “Tidak, kamu belum tahu karena orang itu adalah kamu.” Kataku dalam hati. Oleh karena itu aku hanya dapat tersenyum dan mengatakan, “Terima kasih,” saat menanggapi kalimatnya tadi.
“Kalau boleh tahu, sebenarnya siapa sih orang yang ingin kamu beri atas lagu tersebut?” Tanyanya tiba – tiba hingga mengagetkanku.

Aku sama sekali tak menyangka dia akan mengeluarkan pertanyaan semacam itu. Dan demi mendengar pertanyaan itu, rasanya nyawaku melayang jauh di atas awan. Ku pikir inilah kesempatan emasku untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun ku urungkan niatku karena menurutku, akan lebih baik nantinya jika ia tetap tidak mengetahuinya.

Dalam hati, aku hanya sanggup berbisik, “Dara, kau lah yang terbaik. Kau lah penghias terindah yang pernah ada menemani hidupku. Bagiku, hadirmu lah yang tak akan pernah tergantikan di hatiku. Meski kau tak menyadari, dan tak akan pernah menyadarinya bahwa semua itu adalah untukmu. Asalkan kau mau tuk selalu bersamaku, memberikanku separuh waktumu, akulah orang yang akan terus mengagumimu…”


                                                                                   “Berikanku Separuh Waktumu”
                                                                                             Written by: Hakim
                                                                                                     23/04/08

No comments:

Post a Comment