Friday, May 17, 2013

KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT Part 2


MULAI MEMBACA
                Setelah menghancurkan mitos, langkah selanjutnya adalah latihan membaca. Berikut kiat – kiat jitu sebelum kalian mulai membaca:
1.               Mempersiapkan diri
Keadaan fisik dan mental kalian merupakan kunci penting untuk menjadi pembaca istimewa. Luangkan waktu beberapa saat sebelum sesi membaca untuk menyesuaikan keadaan fisik dan mental kalian.
2.              Meminimalkan gangguan
Mulailah membaca di tempat yang tenang dan damai. Gunakan musik untuk membantu. Cobalah mendengarkan musik barok yang bertempo 60 ketukan per menit. Musik ini dikenal dapat membawa orang dalam keadaan santai. Musik ini juga dapat merangsang denyut jantung diam rata – rata. Selain itu, musik juga menyibukkan otak kanan kalian yang bebas dan artistik, sambil membiarkan otak kiri kalian memusatkan perhatian pada tugas yang ada.
3.               Duduklah dengan sikap tegak
Ratakan telapak kaki di atas lantai dan bukalah buku kalian.
4.              Luangkanlah waktu beberapa saat untuk menenangkan pikiran kalian
5.             Gunakan jari kalian atau alat penunjuk lainnya
Karena mata secara alamiah mengikuti benda yang bergerak, maka akan membantu apabila ada penunjuk yang dapat diikuti saat mata bergerak ke bagian bawah halaman. Dorong mata kalian dengan cepat menyusuri bacaan kalian dengan menggerakkan jari sedikit lebih cepat dari mata kalian.
6.              Melihat dulu sekilas bacaan kalian
Sebelum membaca lihatlah sekilas bacaannya. Periksalah huruf yang dicetak tebal atau dicetak miring, segalanya yang tampak menonjol. Dengan sedikit persiapan ini, kalian akan tahu apa yang diharapkan dan pikiran kalian akan mendapatkan gagasan – gagasan baik dari gagasan yang akan diberikan.
MEMAHAMI MATERI YANG KALIAN BACA
                Pertanyaan yang sering kita dengar dari banyak orang ketika mereka meningkatkan kecepatan membacanya adalah: bagaimana kita dapat memahami apa yang kit abaca?
                Jawabannya adalah: sesungguhnya kita memahami sama baiknya atau lebih baik ketika membaca dengan cepat.
                Ada dua kiat untuk memastikan bahwa kita mendapatkan apa yang kita perlukan dari apa yang kit abaca. Pertama, jadilah pembaca aktif. Jangan lupa dengan 6 kata tanya (5W+1H). buatlah teks bacaan yang menjawab pertanyaan – pertanyaan kalian saat kalian membaca. Kedua adalah, bacalah gagasannya, bukan kata – katanya. Kata – kata yang digunkan penulis hanyalah alat untuk menyampaikan gagasannya. Ketika kalian membaca satu demi satu kata, otak akan bekerja lebih keras untuk mengartikannya, yaitu membaca gagasannya dan mengerti kata – katanya. Untuk membaca gagasan yang ada dalam bacaan, kalian tidak perlu membaca satu kata demi satu kata untuk menemukannya. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita dapat meningkatkan penglihatan periferal kita untuk tidak membaca kata demi kata.
                Steve Snyder, seorang instruktur membaca, mengajarkan siswanya untuk mengembangkan penglihatan periferal mereka dengan latihan Tri Fokus. Steve mempunyai buku ajaib untuk membantu para siswanya berlatih keterampilan ini. Hal pertama yang dilihat para siswa dalam buku ini adalah, bahwa dalam buku itu tidak terdapat kata – kata. Tetapi setiap halaman terdiri dari simbol – simbol seperti ini:

_____*_____         _____*______       _____*_____

                Untuk membaca buku ajaib tersebut, hanya perlu memusatkan perhatian pada 1/3 bagian yang kiri dengan pusat fokus pada bintang, lalu 1/3 bagian yang tengah, kemudian 1/3 bagian yang kanan. Berlatihlah seperti itu saat kalian membaca sebuah bacaan. Dan dari situ kalian akan tahu bahwa seperti itulah cara membaca sehingga lebih memudahkan kalian untuk mencari gagasannya.
MATA KALIAN LELAH?
                Jika mata yang telah konsentrasi selama membaca terasa lelah, cobalah tips berikut. Gosokkan tangan kalian dengan cepat dalam beberapa saat, kemudian pejamkan mata kalian dan tetaplah dengan tangan kalian, dengan jari – jari yang dirapatkan sehingga cahaya tidak dapat masuk. Biarkan  mata kalian melirik ke atas membayangkan sebuah tempat yang damai dan menyenangkan. Kemudian secara perlahan – lahan angkat tangan kalian dan buka mata kalian.

Semoga bermanfaat!!  ^_^

dikutip dari buku Quantum Learning

Thursday, May 16, 2013

KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT Part 1

Bagi banyak orang, membaca adalah suatu tugas yang berat. itulah sebabnya mengapa mereka, sampai saat ini enggan untuk membaca. Padahal informasi saat ini sedang berkembang dengan pesat. Sehingga mereka, orang yang enggan membaca akan kesulitan untuk mendapatkan informasi dengan cepat di era yang serba global ini.
Membaca cepat adalah sebuah cara yang praktis sangat dibutuhkan untuk menangkap semua informasi yang beredar cukup cepat. Dengan membaca cepat, dan tetap memahami, kalian akan dapat mengurangi satu jam untuk mengerjakan tugas menjadi hanya dua puluh menit.
“MENGHANCURKAN MITOS”
Salah satu sebab orang tidak dapat membaca dengan baik adalah bahwa mereka masih percaya dengan mitos – mitos yang sampai saat ini masih dipercaya kebanyakan orang. Mitos – mitos seperti:
Membaca itu sulit
Membaca  harus dilakukan dengan mengeja perkata
Membaca harus perlahan
Membaca tidak boleh menggunakan jari

Mitos – mitos di atas akan membuat kalian tersiksa ketika membaca. Oleh karena itu, gantilah mitos itu dengan gagasan baru, seperti: MEMBACA ITU MUDAH.
Walaupun belajar membaca adalah hal yang kompleks. Itu adalah salah satu hal yang dicapai oleh otak manusia. Ini membuktikan bahwa kita masih mampu dengan mudah belajar membaca dengan lebih baik lagi.
Boleh membaca dengan jari kalian
                Walaupun kalian diajari untuk untuk tidak membaca dengan jari (mungkin karena kalian menggunakannya untuk menunjuk satu kata yang bisa melambatkan kalian membaca), kalian boleh membiasakannya lagi kini! Bedanya sekarang, kalian akan memakai jari kalian  untuk menuntun mata kalian secara cepat saat membaca bacaan kalian.
                Kalian dapat membaca lebih cepat daripada mengeja kata perkata
                Sebenarnya membaca kata perkata justru akan mengurangi pemahaman. Karena kata – kata tidak dipahami dalam konteksnya dengan yang lain. Pikiran kalian harus bekerja keras dua kali untuk memahami gagasan dan kata – katanya.
                ”kalian dapat membaca cepat dengan tetap memahami
                Instruktur membaca Steve Snyder pernah membaca 14 buku dalam satu penerbangan Los Angles – Sidney. Menggunakan teknik yang dikembangkannya, ia bisa membaca 3-4 buku fiksi ataupun non fiksi dalam satu malam. Kecepatan membacanya adalah 5000 kpm (kata per menit). Kedengarannya ini cepat sekali. Namun menurutnya ini kecepatan yang biasa (jogging speed), kecepatan sprintnya adalah sekitar 10.000 kpm.
                Sebagian orang tidak percaya dan yakin bahwa ia dapat memahami yang ia baca dengan kecepatan itu. Oleh karena itu, Steve menyamakan kecepatan membaca dengan bermain ski. “Kalau     Anda bermain ski dengan tenang dan perlahan – lahan, Anda tidak perlu memperhatikan apa yang Anda lakukan. Pikiran akan berkeliaran kemana – mana. Tetapi jika Anda melakukannya dengan sangat cepat menuruni lembah, Anda harus memusatkan perhatian.” Itulah sebabnya kalian sebenarnya akan memahami bacaan secara lebih baik kalau membacanya dengan cepat.

next part is available...

Sunday, May 12, 2013

CERPEN

BERIKANKU SEPARUH WAKTUMU


            Aku sama sekali tak pernah mengira jika mulai semester ini aku akan mendapatkan guru sastra yang baru. Rencananya dia akan menggantikan guru sastra yang lama karena sibuk mengurusi anak – anak kelas XII dan juga dengan kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku bertanya pada temanku yang sudah lebih dulu mengenalnya karena aku telat datang dua hari ke asrama.
            “ Orangnya biasa aja, tapi senyumnya itu, bikin kelabakan!”

            Ah, segitu kah ia?

            Demi mengenalnya, aku yang baru datang tadi pagi pun bergegas berangkat ke sekolah. Kudengar, ia ada jadwal mengajar hari ini.
Kesan pertama yang kudapatkan ketika melihatnya pertama kali, benar saja. Dia bahkan tampak lebih tua dari bayanganku semula. Namun yang tak dapat dipungkiri adalah, senyumnya yang (ah,bicara apa aku ini!), sangat manis sekali!

            Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, tentu saja menurut versiku, karena sudah dua kali ini dia di sini. Rasanya, biasa saja. Bahkan tak mengenakkan bagiku karena hari itu materinya adalah puisi, sesuatu yang paling tidak aku sukai. Selama pelajaran berlangsung aku lebih tertarik untuk berlama - lama melihatnya. Awalnya memang biasa, tetapi coba dekati lebih dalam, tampak sangat jelas indah ayu yang dimilikinya. Terlebih saat ia tersenyum.
           
---------------------**********---------------------
           
            Dia memberi kami tugas membuat sebuah puisi. Aku yang memang tak penah suka puisi, dengan alasan bingung memaknai arti dalam sebuah puisi, selalu saja mengeluh. Naluri kepengaranganku memaksaku untuk memberontak, “Bu, kalo bikin cerpen saya lebih suka daripada bikin puisi!” Dia dengan senyum khasnya menjawab, “Apa bedanya puisi sama cerpen? Toh sama – sama mengarang.” Aku tak mau mengalah begitu saja, “Jelas beda donk, Bu! Cerpen itu bebas, beda jauh dengan puisi.”
Dia tak lagi menanggapi.
            Akhirnya aku tetap saja membuat puisi yang, entah mengerti atau tidak aku akan maknanya. Aku sendiri malu untuk membaca puisiku sendiri. Bisa kuanggap, inilah karya terburukku, mungkin karena aku terlalu menghindari puisi.
            “Sudah selesai?”
            “Sudah, Buuu…!”
            “Oke, sekarang kalian bacakan puisi kalian di depan kelas, ya!” 
            Ya ampun! Membacakan puisi? Ini pasti hanya khayalan! Inilah salah satu bagian dari puisi yang paling aku benci, yaitu membacakannya.
            Dia menunjuk satu persatu murid untuk membacakan puisi masing – masing. Dan kini giliran aku yang kena tunjuk olehnya. Oh, tidak! Apa yang akan terjadi pada diriku? Aku sangat membenci puisi, apalagi mempresentasikannya. Akhirnya aku maju, demi dapat menarik perhatiannya. Dengan tegang aku melangkahkan kakiku ke muka kelas. Aku melihatnya sebentar, berharap ia tak yakin dengan pilihannya. Namun ia malah tampak mantap sekali. Kemudian, kubaca puisi dengan nada yang sangat sangat sangat datar.

KU AKUI

Mungkin ini bukan pertama kalinya
untukku…
Mungkin ini untuk ke sekian kalinya
untukku…
Tapi ku akui…
Ku bertekuk lutut di hadapmu…
Ku harus mengakui keberadaanmu
Sebagai kekasih hatiku…

                Ku cinta padamu…
                Ku sayang padamu…

                                Dan untuk yang ke sekian kali…
               
                Harus ku akui…

                Tanpamu…
                Ku tak berarti…
               
                                Takdir tlah membawaku
                                Pada cinta yang tak terbendung…

Namun sekali lagi…
Harus ku akui…

Ku tak bisa meraihmu…
Dan tak akan pernah bisa…

Karma cinta ini…
Kini tlah pergi…
Dari hati yang sunyi



“Plok! Plok! Plok! …” Dia memberiku applause yang diikuti oleh anak – anak lainnya.

__________###_________


            Sejak saat itu, aku selalu menantikan kedatangn hari dimana ia mengajar. Demikianlah aku selama beberapa bulan kemudian. Aku juga sempat sangat begitu agresif demi dapat mendekati dia. Dan tema yang sering kuambil saat berbicara dengannya pun tak lain adalah cerpen. Sebuah pilihan yang tidak begitu buruk karena dia guru sastraku, sedang aku, cita – citaku adalah saat aku dapat meminang buku karya sastraku sendiri.
            Namun suatu ketika aku pernah menanyakan padanya sesuatu yang sangat jauh dari tema awal. “Bu, kalo perasaan Ibu sedang terusik, apa yang sering Ibu lakukan untuk meredamnya?” Dia menoleh kepadaku, kemudian berkerut sebentar, lalu berkata, “ Emang kamu ada masalah apa? Kalo  ada apa – apa katakan saja. Tidak apa – apa, kok. Kalau ada waktu mungkin kita bisa sharing. Atau kalau kamu mau, kamu bisa telepon aku.”
           

            Aku dengar di sekolah sedang trend bahwa ada beberapa temanku yang gemar membuat lagu. Aku tertarik akan hal itu sehingga membuatku ingin melakukan hal yang sama. Aku juga akan membuatkan sebuah lagu yang nantinya akan kutujukan pada sang Guru itu.

________ % % % % %  ________
           
Semenjak lirik lagu tersebut selesai dibuat, kontan tiap malam aku selalu begadang untuk mencari nada lagu itu. Kadang aku melamun sebentar, kemudian bersiul sendiri mencoba memperagakan bentuk nadanya. Sudah berhari – hari kulewati waktuku, namun aku masih belum juga menemukan setidaknya kunci dasar dari laguku tersebut.
            Ketika aku bertemu dengan guru sastraku, aku langsung memperlihatkan lirikku padanya meski belum jadi secara tuntas.
            “Wah! Ini pasti buat pacar kamu, ya?” Begitu katanya setelah selesai membaca bait lagu itu. Aku hanya tersenyum menanggapinya, ia belum tahu bahwa itu adalah untuknya. “Kalau begitu, sekalian saja kamu tampilkan pada saat Porseni nanti,” usulnya. “Rencana saya memang seperti itu. Tapi masih dua minggu lagi.” Kataku.
            Sebenarnya aku ingin mengatakan ‘tinggal’ dua minggu lagi. Sebab tak mungkin dengan waktu segitu aku yang hanya seorang amatiran ini dapat memperoleh nada dari laguku itu secara keseluruhan. Akhirnya tak ada jalan lain bagiku selain berpikir lebih keras untuk menyempurnakan lagunya. Aku terus merenung, berpikir, bahkan berdengung sendiri mencari – cari nada.
Setelah berhari – hari lamanya akhirnya aku berhasil menemukan nadanya seminggu menjelang Porseni dimulai. Dan dalam sisa waktu seminggu terakhir itu, kugunakan waktuku untuk memantapkan lagu ciptaanku sendiri itu.

           
Hari H pun tiba. Hatiku berdebar tak sabar ingin segera menyanyikannya. Dalam benakku, sama sekali tak terlintas bagaimana aku memenangkan lomba. Yang ada hanyalah bagaimana aku bisa menyanyikannya dengan baik sehingga isi hatiku dapat tersampaikan.
            Sang pembawa acara telah sejak tadi membuka acaranya. Ia sudah lama berada di atas panggung dan tak henti – hentinya berbicara segala hal mengenai perlombaan menyanyi ini. Guru sastraku juga ada di sana sebagai komentator sekaligus juri dalam lomba kali ini.

            Satu – persatu para peserta ditampilkan hingga saatnya,,
            “Peserta selanjutnya, dengan nomor urut delapan. Langsung saja kita panggilkan, Uki…!”
            “Plok! Plok! Plok! …” Sorak sorai penonton bergemuruh di udara begitu namaku selesai dipanggil. Tepuk tangan semakin keras saat aku tiba di atas panggung,
            Aku diam sejenak, kupandangi para penonton termasuk dewan juri. Ku awali penampilanku dengan sedikit kalimat pembuka. “Lagu ini gue ciptain, khusus untuk seseorang sebagai ungkapan terima kasih karena dia udah hadir di kehidupan gue. Dan gue berharap, semoga dia akan terus memberikan separuh waktunya buat gue. Persis dengan judul lagu yang akan aku nyanyikan untuknya. Berikanku Separuh Waktumu.” Penonton semakin semarak. Sampai di sini, semua masih dalam kendaliku, termasuk membuka penampilanku dengan sebuah pidato singkat.

            Ketika lagu memasuki bagian intro semua masih baik – baik saja. Namun petaka mulai ku rasakan saat aku mulai menyanyikan bait pertama. Aneh, lagu yang telah aku konsentrasikan sebelumnya kini mendadak lenyap!

Dirimu kau terindah
Yang menemaniku
Hadirmu takkan pernah
Tergantikan di hatiku
            Kau bahagiaku yang
            Jadikanku berarti
            Di saat ku kan mati
            Dan tak mampu tuk berdiri
Kau mampu…
Bangkitkan ku…
Dari ketiadaanku…

            Harapkan kau selalu
            Hampiri diriku
            Meluangkan sejenak
            Waktumu tuk diriku
Jangan  pergi
Dari sisiku
Hilang  dariku
            Dan ingin   ku
            Kau kan terus bersamaku
            Temani aku yang
            Hampa  tanpa hadirmu
Ingin   ku
Kau kan terus ada
Di hati   ku
            Berikan   aku
            Separuh  waktumu

Berikanku Separuh Waktumu


            Semua menjadi kacau! Tidak ada nada yang benar keluar dari mulutku. Hanya kalimat terakhir saja yang benar yang kuambil sebagai judul laguku.
            Aku turun dengan perasaan sedih. Penonton yang baru pertama kali mendengarnya mengira bahwa memang seperti itu lah lagunya. Mereka tetap saja bertepuk tangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tetap bergembira karena merasa terhibur dengan adanya pertunjukkan musik.

            “Akhirnya aku tak dapat mengungkapkan isi hatiku…”

            Dalam hati aku terus menyesalkan apa yang telah terjadi barusan. Bahkan sampai akhir perlombaan pun aku masih tetap bersedih, hingga akhirnya sang Guru pun memergokiku di sudut taman sekolah yang sedang meratap.
            “Kamu kenapa? Lagu kamu tadi bagus, lho!” Katanya.
            Aku terperanjat, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tetap menganggap bahwa laguku bagus.
            “Apa menurut Ibu begitu?” Tanyaku.
Emang menurut kamu gimana?”
Aku diam sejenak. Ia benar – benar tak mengetahui bagaimana yang tejadi.

Barusan aku tidak seperti orang yang sedang bernyanyi,” ungkapku. “Lho, kenapa?” Ia menyelaku. “Kenapa!? Apa Ibu tahu, yang barusan tadi seperti bukan suaraku. Suaraku tadi benar – benar hancur!”
“Kata siapa? Suara kamu bagus, kok! Buktinya, tadi tepuk tangan penonton ramai sekali.” Dia mencoba meyakinkanku. “Sudahlah, yang penting penonton senang. Toh memang bagus,” hiburnya.
“Tapi itu kan mereka, mereka nggak tahu yang sebenarnya. Mereka tidak tahu apa – apa tentang lagu itu. Tadi aku tidak bisa mengeluarkan nada yang sesungguhnya dari laguku tadi.” Aku melanjutkan, “Dan yang terpenting, orang yang ingin aku persembahkan atas lagu itu tidak tahu maksud hatiku. Aku gagal menyampaikan perasaanku pada seseorang, aku telah gagal!”

Kami hening untuk beberapa lamanya, kemudian, ”Tidak apa, yang penting kamu sudah berusaha. Pasti dia tahu, kan kamu sendiri yang mengatakannya di bagian awal tadi. Orang yang selama ini ada di samping kamu pasti akan  menyadari hal ini. Tak perlu mengatakannya sekali lagi secara langsung pun pasti dia akan tahu karena kalian sering bersama – sama.”
Aku sempat terhibur oleh ucapannya, dia sangat bijaksana sekali. Tapi tetap saja tidak dapat mempengaruhiku karena ia belum tahu bahwa lagu itu merupakan gambaran kehidupanku dengan dia. “Tidak, kamu belum tahu karena orang itu adalah kamu.” Kataku dalam hati. Oleh karena itu aku hanya dapat tersenyum dan mengatakan, “Terima kasih,” saat menanggapi kalimatnya tadi.
“Kalau boleh tahu, sebenarnya siapa sih orang yang ingin kamu beri atas lagu tersebut?” Tanyanya tiba – tiba hingga mengagetkanku.

Aku sama sekali tak menyangka dia akan mengeluarkan pertanyaan semacam itu. Dan demi mendengar pertanyaan itu, rasanya nyawaku melayang jauh di atas awan. Ku pikir inilah kesempatan emasku untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun ku urungkan niatku karena menurutku, akan lebih baik nantinya jika ia tetap tidak mengetahuinya.

Dalam hati, aku hanya sanggup berbisik, “Dara, kau lah yang terbaik. Kau lah penghias terindah yang pernah ada menemani hidupku. Bagiku, hadirmu lah yang tak akan pernah tergantikan di hatiku. Meski kau tak menyadari, dan tak akan pernah menyadarinya bahwa semua itu adalah untukmu. Asalkan kau mau tuk selalu bersamaku, memberikanku separuh waktumu, akulah orang yang akan terus mengagumimu…”


                                                                                   “Berikanku Separuh Waktumu”
                                                                                             Written by: Hakim
                                                                                                     23/04/08

Saturday, May 11, 2013

CERPEN ANAK

UANG BINTANG


            Hari yang panas buat bulan dan bintang. Dua gadis kecil itu berjalan dengan menutupi kepala mereka masing – masing. Kedua sahabat ini sama – sama berasal dari desa Subur, sedangkan SD tempat mereka menimba ilmu berada tiga kilometer jauhnya di pusat kecamatan sana. Kini mereka pulang sekolah dan harus berjalan sejauh tiga kilometer di siang yang terik ini.
            “Bintang, kamu capek nggak?” Tanya Bulan pada Bintang. Bintang pun menjawab, “Iya, kita istirahat dulu, yuk!”
            Mereka pun berteduh sejenak di bawah pohon yang rindang. Setelah beberapa waktu, perjalanan ke rumah mereka lanjutkan kembali.

            Suatu hari, Bintang mengajak Bulan untuk bermain. Bulan setuju, akhirnya keduanya kini menuju ke taman bermain dekat rumah.
            Tapi kali ini Bintang tak seperti biasanya. Dia membawa uang banyak sekali. Bulan merasa sangat heran, karena Bintang tak pernah membawa uang banyak – banyak seperti itu.
            “Bintang, kamu bawa uang sebanyak itu untuk apa?” Tanya Bulan. “Aku nanti mau beli es krim untuk kita berdua, soalnya kan capek habis main,” jaweb Bintang.
            “Tapi Bintang,” kata Bulan lagi. “Kamu yakin nggak akan lupa dimana menyimpan uang itu? Baju kamu kan nggak ada sakunya.” “Tenang saja, aku akan taruh uangku ini di bawah pohon bunga ini. Nanti sehabis main, kita kembali lagi ke sini untuk mengambil uang ini lagi.” Kata Bintang.
            Bintang yakin sekali kalau uangnya akan aman selama disimpan di sana. Setelah itu pun, Bintang dan Bulan akhirnya bermain bersama temannya yang lain.

            Selama mereka bermain, ada salah seorang dari mereka yang ingin beristirahat. “Teman – teman, aku istirahat dulu, ya!” Kata anak itu.
            Anak itu, Cepot namanya, beristirahat sejenak. Ternyata ia berteduh tepat di dekat pohon tempat Bintang menyimpan uangnya.
            “Panas sekali,” kata Cepot, “Andai saja ada uang yang tumbuh dari pohon ini.” Saat itu ia merebahkan tubuhnya di rerumputan. Ketika kepalanya ia tolehkan ke samping, tanpa sengaja ia melihat uang itu.
            “Uang…! Ada uang jatuh dari pohon!” Teriaknya.
            Anak itu kegirangan, akhirnya Cepot mengambil semua uang itu, kemudian berlari menuju ‘abang – abang’ penjual es.


            Bulan dan Bintang sudah lelah bermain. Mereka kembali ke pohon bunga tadi dengan maksud mengambil uang Bintang kembali. Tapi begitu mereka menghampiri pohon tadi, Bintang berteriak, “Uangku mana?!! Bulan, kamu lihat uangku tidak?” Bulan pun menjawab,”Mana aku tahu. Aku kan main sama kamu tadi.”
            Setelah sekian lama mereka mencari – cari uang Bintang yang hilang itu, Bulan dan Bintang tak dapat menemukannya. Mereka pun langsung pulang ke rumah karena tak jadi membeli es. Dalam hati Bintang merasa takut karena tahu ia akan dimarahi oleh ibunya setelah sampai di rumah nanti karena menghilangkan uang jajannya.