BERIKANKU SEPARUH WAKTUMU
Aku sama sekali tak pernah mengira
jika mulai semester ini aku akan mendapatkan guru sastra yang baru. Rencananya
dia akan menggantikan guru sastra yang lama karena sibuk mengurusi anak – anak
kelas XII dan juga dengan kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku
bertanya pada temanku yang sudah lebih dulu mengenalnya karena aku telat datang
dua hari ke asrama.
“ Orangnya biasa aja, tapi senyumnya
itu, bikin kelabakan!”
Ah, segitu kah ia?
Demi mengenalnya, aku yang baru
datang tadi pagi pun bergegas berangkat ke sekolah. Kudengar, ia ada jadwal
mengajar hari ini.
Kesan
pertama yang kudapatkan ketika melihatnya pertama kali, benar saja. Dia bahkan tampak
lebih tua dari bayanganku semula. Namun yang tak dapat dipungkiri adalah,
senyumnya yang (ah,bicara apa aku ini!), sangat manis sekali!
Hari pertama masuk sekolah setelah
libur panjang, tentu saja menurut versiku, karena sudah dua kali ini dia di
sini. Rasanya, biasa saja. Bahkan tak mengenakkan bagiku karena hari itu
materinya adalah puisi, sesuatu yang paling tidak aku sukai. Selama pelajaran
berlangsung aku lebih tertarik untuk berlama - lama melihatnya. Awalnya memang
biasa, tetapi coba dekati lebih dalam, tampak sangat jelas indah ayu yang
dimilikinya. Terlebih saat ia tersenyum.
---------------------**********---------------------
Dia memberi kami tugas membuat
sebuah puisi. Aku yang memang tak penah suka puisi, dengan alasan bingung
memaknai arti dalam sebuah puisi, selalu saja mengeluh. Naluri kepengaranganku
memaksaku untuk memberontak, “Bu, kalo
bikin cerpen saya lebih suka daripada bikin
puisi!” Dia dengan senyum khasnya menjawab, “Apa bedanya puisi sama cerpen? Toh
sama – sama mengarang.” Aku tak mau mengalah begitu saja, “Jelas beda donk, Bu! Cerpen itu bebas, beda jauh
dengan puisi.”
Dia
tak lagi menanggapi.
Akhirnya aku tetap saja membuat
puisi yang, entah mengerti atau tidak aku akan maknanya. Aku sendiri malu untuk
membaca puisiku sendiri. Bisa kuanggap, inilah karya terburukku, mungkin karena
aku terlalu menghindari puisi.
“Sudah selesai?”
“Sudah, Buuu…!”
“Oke, sekarang kalian bacakan puisi
kalian di depan kelas, ya!”
Ya ampun! Membacakan puisi? Ini
pasti hanya khayalan! Inilah salah satu bagian dari puisi yang paling aku
benci, yaitu membacakannya.
Dia menunjuk satu persatu murid
untuk membacakan puisi masing – masing. Dan kini giliran aku yang kena tunjuk olehnya.
Oh, tidak! Apa yang akan terjadi pada diriku? Aku sangat membenci puisi,
apalagi mempresentasikannya. Akhirnya aku maju, demi dapat menarik
perhatiannya. Dengan tegang aku melangkahkan kakiku ke muka kelas. Aku
melihatnya sebentar, berharap ia tak yakin dengan pilihannya. Namun ia malah
tampak mantap sekali. Kemudian, kubaca puisi dengan nada yang sangat sangat
sangat datar.
KU AKUI
Mungkin
ini bukan pertama kalinya
untukku…
Mungkin
ini untuk ke sekian kalinya
untukku…
Tapi
ku akui…
Ku
bertekuk lutut di hadapmu…
Ku
harus mengakui keberadaanmu
Sebagai
kekasih hatiku…
Ku cinta padamu…
Ku sayang padamu…
Dan untuk yang
ke sekian kali…
Harus ku akui…
Tanpamu…
Ku tak berarti…
Takdir tlah
membawaku
Pada cinta yang
tak terbendung…
Namun
sekali lagi…
Harus
ku akui…
Ku
tak bisa meraihmu…
Dan
tak akan pernah bisa…
Karma
cinta ini…
Kini
tlah pergi…
Dari
hati yang sunyi
“Plok! Plok!
Plok! …” Dia memberiku applause yang diikuti oleh anak – anak lainnya.
__________###_________
Sejak saat itu, aku selalu
menantikan kedatangn hari dimana ia mengajar. Demikianlah aku selama beberapa
bulan kemudian. Aku juga sempat sangat begitu agresif demi dapat mendekati dia.
Dan tema yang sering kuambil saat berbicara dengannya pun tak lain adalah
cerpen. Sebuah pilihan yang tidak begitu buruk karena dia guru sastraku, sedang
aku, cita – citaku adalah saat aku dapat meminang buku karya sastraku sendiri.
Namun suatu ketika aku pernah
menanyakan padanya sesuatu yang sangat jauh dari tema awal. “Bu, kalo perasaan Ibu sedang terusik, apa
yang sering Ibu lakukan untuk meredamnya?” Dia menoleh kepadaku, kemudian
berkerut sebentar, lalu berkata, “ Emang kamu
ada masalah apa? Kalo ada apa – apa katakan saja. Tidak apa – apa,
kok. Kalau ada waktu mungkin kita bisa sharing.
Atau kalau kamu mau, kamu bisa telepon aku.”
Aku dengar di sekolah sedang trend bahwa ada beberapa temanku yang
gemar membuat lagu. Aku tertarik akan hal itu sehingga membuatku ingin
melakukan hal yang sama. Aku juga akan membuatkan sebuah lagu yang nantinya
akan kutujukan pada sang Guru itu.
________
% % % % % ________
Semenjak
lirik lagu tersebut selesai dibuat, kontan tiap malam aku selalu begadang untuk
mencari nada lagu itu. Kadang aku melamun sebentar, kemudian bersiul sendiri
mencoba memperagakan bentuk nadanya. Sudah berhari – hari kulewati waktuku,
namun aku masih belum juga menemukan setidaknya kunci dasar dari laguku
tersebut.
Ketika aku bertemu dengan guru
sastraku, aku langsung memperlihatkan lirikku padanya meski belum jadi secara
tuntas.
“Wah! Ini pasti buat pacar kamu, ya?” Begitu katanya setelah selesai membaca bait
lagu itu. Aku hanya tersenyum menanggapinya, ia belum tahu bahwa itu adalah
untuknya. “Kalau begitu, sekalian saja kamu tampilkan pada saat Porseni nanti,”
usulnya. “Rencana saya memang seperti itu. Tapi masih dua minggu lagi.” Kataku.
Sebenarnya aku ingin mengatakan
‘tinggal’ dua minggu lagi. Sebab tak mungkin dengan waktu segitu aku yang hanya
seorang amatiran ini dapat memperoleh nada dari laguku itu secara keseluruhan.
Akhirnya tak ada jalan lain bagiku selain berpikir lebih keras untuk
menyempurnakan lagunya. Aku terus merenung, berpikir, bahkan berdengung sendiri
mencari – cari nada.
Setelah
berhari – hari lamanya akhirnya aku berhasil menemukan nadanya seminggu
menjelang Porseni dimulai. Dan dalam sisa waktu seminggu terakhir itu,
kugunakan waktuku untuk memantapkan lagu ciptaanku sendiri itu.
Hari
H pun tiba. Hatiku berdebar tak sabar ingin segera menyanyikannya. Dalam
benakku, sama sekali tak terlintas bagaimana aku memenangkan lomba. Yang ada
hanyalah bagaimana aku bisa menyanyikannya dengan baik sehingga isi hatiku
dapat tersampaikan.
Sang pembawa acara telah sejak tadi
membuka acaranya. Ia sudah lama berada di atas panggung dan tak henti –
hentinya berbicara segala hal mengenai perlombaan menyanyi ini. Guru sastraku
juga ada di sana sebagai komentator sekaligus juri dalam lomba kali ini.
Satu – persatu para peserta
ditampilkan hingga saatnya,,
“Peserta selanjutnya, dengan nomor
urut delapan. Langsung saja kita panggilkan, Uki…!”
“Plok! Plok! Plok! …” Sorak sorai
penonton bergemuruh di udara begitu namaku selesai dipanggil. Tepuk tangan
semakin keras saat aku tiba di atas panggung,
Aku diam sejenak, kupandangi para
penonton termasuk dewan juri. Ku awali penampilanku dengan sedikit kalimat
pembuka. “Lagu ini gue ciptain, khusus
untuk seseorang sebagai ungkapan terima kasih karena dia udah hadir di kehidupan gue. Dan
gue berharap, semoga dia akan terus
memberikan separuh waktunya buat gue. Persis
dengan judul lagu yang akan aku nyanyikan untuknya. Berikanku Separuh Waktumu.”
Penonton semakin semarak. Sampai di sini, semua masih dalam kendaliku, termasuk
membuka penampilanku dengan sebuah pidato singkat.
Ketika lagu memasuki bagian intro
semua masih baik – baik saja. Namun petaka mulai ku rasakan saat aku mulai
menyanyikan bait pertama. Aneh, lagu yang telah aku konsentrasikan sebelumnya
kini mendadak lenyap!
Dirimu kau
terindah
Yang menemaniku
Hadirmu takkan
pernah
Tergantikan di
hatiku
Kau bahagiaku yang
Jadikanku berarti
Di saat ku kan mati
Dan tak mampu tuk berdiri
Kau mampu…
Bangkitkan ku…
Dari
ketiadaanku…
Harapkan kau selalu
Hampiri diriku
Meluangkan sejenak
Waktumu tuk diriku
Jangan pergi
Dari sisiku
Hilang dariku
Dan ingin ku
Kau kan terus bersamaku
Temani aku yang
Hampa tanpa hadirmu
Ingin ku
Kau kan terus
ada
Di hati ku
Berikan aku
Separuh waktumu
Berikanku
Separuh Waktumu
Semua menjadi kacau! Tidak ada nada
yang benar keluar dari mulutku. Hanya kalimat terakhir saja yang benar yang
kuambil sebagai judul laguku.
Aku turun dengan perasaan sedih.
Penonton yang baru pertama kali mendengarnya mengira bahwa memang seperti itu
lah lagunya. Mereka tetap saja bertepuk tangan tanpa tahu apa yang sebenarnya
terjadi. Mereka tetap bergembira karena merasa terhibur dengan adanya
pertunjukkan musik.
“Akhirnya aku tak dapat
mengungkapkan isi hatiku…”
Dalam hati aku terus menyesalkan apa
yang telah terjadi barusan. Bahkan sampai akhir perlombaan pun aku masih tetap
bersedih, hingga akhirnya sang Guru pun memergokiku di sudut taman sekolah yang
sedang meratap.
“Kamu kenapa? Lagu kamu tadi bagus,
lho!” Katanya.
Aku terperanjat, dia tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi, namun ia tetap menganggap bahwa laguku bagus.
“Apa menurut Ibu begitu?” Tanyaku.
“Emang menurut kamu gimana?”
Aku
diam sejenak. Ia benar – benar tak mengetahui bagaimana yang tejadi.
“Barusan aku tidak seperti orang yang
sedang bernyanyi,” ungkapku. “Lho, kenapa?”
Ia menyelaku. “Kenapa!? Apa Ibu tahu, yang barusan tadi seperti bukan suaraku.
Suaraku tadi benar – benar hancur!”
“Kata
siapa? Suara kamu bagus, kok!
Buktinya, tadi tepuk tangan penonton ramai sekali.” Dia mencoba meyakinkanku.
“Sudahlah, yang penting penonton senang. Toh
memang bagus,” hiburnya.
“Tapi
itu kan mereka, mereka nggak tahu yang sebenarnya. Mereka tidak
tahu apa – apa tentang lagu itu. Tadi aku tidak bisa mengeluarkan nada yang
sesungguhnya dari laguku tadi.” Aku melanjutkan, “Dan yang terpenting, orang
yang ingin aku persembahkan atas lagu itu tidak tahu maksud hatiku. Aku gagal
menyampaikan perasaanku pada seseorang, aku telah gagal!”
Kami
hening untuk beberapa lamanya, kemudian, ”Tidak apa, yang penting kamu sudah
berusaha. Pasti dia tahu, kan kamu
sendiri yang mengatakannya di bagian awal tadi. Orang yang selama ini ada di
samping kamu pasti akan menyadari hal
ini. Tak perlu mengatakannya sekali lagi secara langsung pun pasti dia akan
tahu karena kalian sering bersama – sama.”
Aku
sempat terhibur oleh ucapannya, dia sangat bijaksana sekali. Tapi tetap saja
tidak dapat mempengaruhiku karena ia belum tahu bahwa lagu itu merupakan
gambaran kehidupanku dengan dia. “Tidak, kamu belum tahu karena orang itu
adalah kamu.” Kataku dalam hati. Oleh karena itu aku hanya dapat tersenyum dan
mengatakan, “Terima kasih,” saat menanggapi kalimatnya tadi.
“Kalau
boleh tahu, sebenarnya siapa sih orang
yang ingin kamu beri atas lagu tersebut?” Tanyanya tiba – tiba hingga
mengagetkanku.
Aku
sama sekali tak menyangka dia akan mengeluarkan pertanyaan semacam itu. Dan
demi mendengar pertanyaan itu, rasanya nyawaku melayang jauh di atas awan. Ku
pikir inilah kesempatan emasku untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun ku
urungkan niatku karena menurutku, akan lebih baik nantinya jika ia tetap tidak
mengetahuinya.
Dalam
hati, aku hanya sanggup berbisik, “Dara, kau lah yang terbaik. Kau lah penghias
terindah yang pernah ada menemani hidupku. Bagiku, hadirmu lah yang tak akan
pernah tergantikan di hatiku. Meski kau tak menyadari, dan tak akan pernah
menyadarinya bahwa semua itu adalah untukmu. Asalkan kau mau tuk selalu
bersamaku, memberikanku separuh waktumu, akulah orang yang akan terus
mengagumimu…”
“Berikanku
Separuh Waktumu”