Sunday, June 2, 2013

CERPEN


SELFTITLED

            
Orang bilang, untuk menjadi bahagia kita cukup hanya dengan menjadikan diri kita kaya hati. Sebab itu yang akan menjadi sumber ketenangan jiwa kita.
            Namun, semakin banyak aku bertanya, semakin kaya aku mengajukan pertanyaan, semakin aku tak dapat menemukan jawabannya. Dan semua pertanyaan yang tak terjawab itu kini tumpah ruah di pikiranku, membebaniku. Sungguh sangat terasa berat.
            Aku tak tahu kenapa semua pertanyaan itu muncul begitu saja.
            Saking tak terbendungnya pertanyaan – pertanyaan itu bermunculan, aku sempat berpikir, mungkinkah aku mencari jalan pintas untuk menjawab semuanya? Ya, sepertinya ide yang bagus. Mungkin lain kali akan kupertimbangkan. Tapi tidak sekarang.

            Ada apa denganku? Ada apa dengan diriku? Siapa sebenarnya aku? Tentu saja kepada siapa pun aku bertanya tak akan ada yang dapat memberiku jawabannya.
            Kemarin sempat kulihat segumpalan awan, tampak sepertinya memunculkan wajahmu. Bulir – bulir angin berembus, terdengar seperti meniupkan namamu. Semalaman aku terpaku. Teringat lengkungan senyummu saat kulirik bulan sabit itu. Dan bintang yang bertaburan pun, rupanya tak berbeda bagai kilau auramu.
            Tapi kini sudah tak terdengar lagi semua gaung yang indah itu. Mungkin karena aku tak mampu tuk mendengarkannya lagi. Atau memang karena kau yang telah hilang, kini.
            Sepertinya memang begitulah keadaannya. Baru aku sadar betapa kehilangannya aku akan dirimu.

----------%%%%%----------


            Seharusnya aku tak menyalahkanmu. Seharusnya aku berpikir dulu dengan lebih jernih. Tak seharusnya aku menyudutkanmu. Tak seharusnya aku melukaimu, menyakitimu. Tapi apa? Emosi telah menguasaiku, khilaf telah menghampiriku. Diriku tak terkendali.
            Bermacam – macam benda berbenturan tak karuan. Berbagai kata beraduk tak beraturan. Kotor, rusak, berantakan, menjijikkan.
            Sebenarnya aku sudah berusaha melawan. Namun seperti tak memiliki daya, kendali diriku sepenuhnya dikuasai oleh emosi.
            “Berapa kali kamu melakukannya?!”
            Dia hanya bergetar tak menjawab. Aku meninggi.
            “Dimana kamu saat melakukan itu dengannya?!”
            Tak pernah ada kata keluar dari mulutnya, sekali pun. Yang ada hanya tubuh kecilnya yang bergetar hebat, dan lelehan air matanya yang menyedihkan.
            Kurasa kini aku tahu apa arti tangisnya. Mungkin sebenarnya lewat matanya itu ia ingin mengatakan sesuatu. Mungkin saja pengingkaran terhadap semua tuduhanku. Atau ia ingin melakukan pemberontakan atas sikap tidak menyenangkan dariku.
            Akhirnya ia bangkit. Berusaha melawan dari tempat duduknya yang tak nyaman. Dapat kulihat usaha yang keras darinya, hanya untuk mengatakan, “Bukan aku!” Atau mungkin, “Kamu salah duga, aku tak seperti itu!”
            Namun sekali lagi, diri ini telah terlanjur tertutupi oleh kebengisan.

_________$$$$$__________

Kejadian yang tak seharusnya terjadi itu bermula ketika kudengar teman – temanku yang sudah banyak terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan. Terutama berkaitan dengan hamil di luar nikah. Awalnya aku tenang – tenang saja, karena aku berpikiran tak mungkin Lisa termasuk bagian dari mereka. Namun belakangan kulihat ia selalu gelisah sendirian. Sering aku mendapatinya seperti serasa tak nyaman. Saat rasa ingin tahuku tak terbendung, ia hanya menjawab, “Bukan apa – apa.” Dan kemudian berlalu.
            Pernah satu ketika saat ia sedang terburu – buru berjalan entah darimana, mungkin saking terburu – burunya sampai ia tak menyadari kehadiranku. Ia menabrakku. Barang bawaannya yang terbungkus dalam plastik  berceceran. Sesaat kulihat ada sebuah benda semacam alat tes kehamilan sebelum ia dengan cepat memasukkannya kembali ke dalam plastik tadi dan kemudian pergi dengan cepatnya.
            “Untuk apa dia membawa benda seperti itu?” Pikirku.
            Tapi apa itu tadi miliknya, atau milik siapa.
            Aku mengikutinya hingga ia sampai di toilet kampus. Ia masuk ke dalam toilet, dan aku tetap menunggu di luar di tempat yang tak terlihat olehnya tapi masih terjangkau hingga aku masih dapat mengawasinya jika suatu saat ia keluar dari toilet tadi.
            Akhirnya ia keluar dari toilet itu. Kulihat ia melempar sesuatu ke dalam tong sampah, kemudian berlalu. Aku mendekati tong sampah tadi. Rupanya benda yang dilemparnya tadi tidak sempurna masuk ke dalam tong sampah hingga termuntahkan kembali. Kuamati dengan seksama benda itu. Betapa geramnya aku.

_________%%%%%_________

                        Ingin kutumpahkan semua kata yang ada untuk mencaciku. Tak kuasa lengan ini menahan beban kepalan tangannya sendiri hendak meninju tuannya. Dan kaki ini sepertinya hendak melangkah kemana, tak tentu hebatnya ia bergetar. Seperti itulah perasaanku saat ini, kurang lebih.
            Terasa sekali buatku ketika tak terdengar lagi sayup – sayup manja darinya. Sentuhan – sentuhannya yang melembutkan irama nadi. Jantungnya yang senantiasa berusaha berimbang dengan detak jantungku. Teramat berat rupanya untuk menerima kenyataan pahit ini.
            Aku selalu berharap agar sang waktu melakukan kesalahan hingga ia memutar kembali dentangannya. Atau setidaknya, aku ingin cepat dipertemukan kembali dengan Lisa. Agar aku dapat mengucapkan kata maafku kepadanya.

            Selepas dari pemakaman Lisa hatiku begitu hancur.
            Hatiku semakin miris manakala mengetahui bahwa sebenarnya alat tes kehamilan yang kulihat di tong sampah sial itu ternyata bukan milik Lisa. Alat itu adalah milik Rosa, saudaranya.
Aku mengetahuinya karena Rosa sendiri yang mengatakannya padaku saat mengunjungiku beberapa hari lalu. Ia mengaku syok karena mengetahui dirinya telah hamil duluan akibat hubungannya dengan Rendi, pacar gelapnya. Dan kekasih gelapnya itu urung bertanggung jawab sebagaimana janjinya dulu. Kemudian ia menceritakan kejadiannya kepada Lisa. Lisa, yang juga syok karena saudaranya mengalami musibah seperti itu, tak lantas membuang alat itu. Ia justru menyimpannya sampai beberapa hari, sampai aku menemukannya. Dan dengan tak sabaran menghabisi nyawanya.
“Aku minta maaf padamu, Roy.” Ungkap Rosa. “Mestinya aku juga cerita sama kamu. Atau mungkin sebaiknya aku tak bercerita pada siapa pun jika tahu begini akhirnya. Biarlah aku yang menanggung beban ini sendirian. Dan aku yang seharusnya mati.”
            “Tidak usah minta maaf,” ujarku. “Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan menceritakan masalahmu pada orang lain. Sebab jika tidak, kau akan tambah depresi dan mungkin akan melakukan bunuh diri seperti yang kamu bilang barusan.”
            “Kalau kamu yang bunuh diri, bukan hanya kamu yang akan kehilangan nyawa, tapi janin yang ada dalam kandunganmu itu pun juga. Kamu akan membunuh dua jiwa sekaligus. Bagaiman pun, janin itu tak berdosa. Yang berdosa adalah apa yang dilakukan oleh orangtuanya.”
            Tapi demi menyelamatkan dua jiwa itu, harus dibayar dengan raibnya satu jiwa. Ya, Lisa telah kehilangan nyawanya karena terbunuh olehku.
            Gunting itu ada di depanku ketika gelap menguasaiku. Gunting sial itu seharusnya sudah dibereskan sejam lalu saat kegelapan itu muncul setelah praktek kesenian di kelas kami. Ketika Lisa berusaha bangkit setelah mendapat tekanan bertubi – tubi dariku, yang kulihat saat itu hanya usaha untuk melawanku. Lisa beranjak, sebuah gunting dalam jangkauanku. Kemudian terjadilah peristiwa itu.

_________@@@_________

            Aku digelandang polisi ketika kesadaranku belum sepenuhnya kembali dan gunting itu masih tersangkut di sela – sela jemari. Lisa tersungkur di lantai. Darah begitu deras mengucur dari perutnya. Seluruh sekolahku gempar, semua sama – sama ingin menyaksikan kelasku yang dipasangi garis polisi. Dan para detektif polisi pun mengerubungi jasad Lisa, membuat garis dengan kapur di sekitar tubuhnya, sebelum menyuruh ambulans tuk membawanya pergi.
            Kunjungan Rosa ke selku setidaknya memberiku pencerahan. Dan penjara ini benar – benar memberiku pelajaran berharga dan kesempatan untuk menyadari kebodohanku, dan menyesalinya. Penyesalan memang selalu datang menyusul.
            Kini setiap untaian kata dalam malam do’aku aku selalu berharap, mungkin saja aku masih diberi kesempatan. Kuharap aku dapat memperbaiki hidupku nanti. Dan dalam sujudku aku berserah diri, memohon ampun kepada-Nya agar Ia menghapus dosa – dosaku. Dan agar aku diberi kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi sidangku pekan depan.
            Hukuman pun telah menantiku …
                                                                                                                                             
                                                                                                                                 29 – 09 – 2011
                                                                                                                        
                                                                                                                                    Written by:
                                                                                                                               Adib Nur Hakim