SELFTITLED
Orang bilang, untuk menjadi bahagia kita cukup hanya dengan
menjadikan diri kita kaya hati. Sebab itu yang akan menjadi sumber ketenangan
jiwa kita.
Namun,
semakin banyak aku bertanya, semakin kaya aku mengajukan pertanyaan, semakin
aku tak dapat menemukan jawabannya. Dan semua pertanyaan yang tak terjawab itu
kini tumpah ruah di pikiranku, membebaniku. Sungguh sangat terasa berat.
Aku tak
tahu kenapa semua pertanyaan itu muncul begitu saja.
Saking tak
terbendungnya pertanyaan – pertanyaan itu bermunculan, aku sempat berpikir,
mungkinkah aku mencari jalan pintas untuk menjawab semuanya? Ya, sepertinya ide
yang bagus. Mungkin lain kali akan kupertimbangkan. Tapi tidak sekarang.
Ada apa
denganku? Ada apa dengan diriku? Siapa sebenarnya aku? Tentu saja kepada siapa
pun aku bertanya tak akan ada yang dapat memberiku jawabannya.
Kemarin
sempat kulihat segumpalan awan, tampak sepertinya memunculkan wajahmu. Bulir –
bulir angin berembus, terdengar seperti meniupkan namamu. Semalaman aku
terpaku. Teringat lengkungan senyummu saat kulirik bulan sabit itu. Dan bintang
yang bertaburan pun, rupanya tak berbeda bagai kilau auramu.
Tapi kini
sudah tak terdengar lagi semua gaung yang indah itu. Mungkin karena aku tak
mampu tuk mendengarkannya lagi. Atau memang karena kau yang telah hilang, kini.
Sepertinya
memang begitulah keadaannya. Baru aku sadar betapa kehilangannya aku akan
dirimu.
----------%%%%%----------
Seharusnya
aku tak menyalahkanmu. Seharusnya aku berpikir dulu dengan lebih jernih. Tak
seharusnya aku menyudutkanmu. Tak seharusnya aku melukaimu, menyakitimu. Tapi
apa? Emosi telah menguasaiku, khilaf telah menghampiriku. Diriku tak
terkendali.
Bermacam –
macam benda berbenturan tak karuan. Berbagai kata beraduk tak beraturan. Kotor,
rusak, berantakan, menjijikkan.
Sebenarnya
aku sudah berusaha melawan. Namun seperti tak memiliki daya, kendali diriku
sepenuhnya dikuasai oleh emosi.
“Berapa
kali kamu melakukannya?!”
Dia hanya
bergetar tak menjawab. Aku meninggi.
“Dimana
kamu saat melakukan itu dengannya?!”
Tak pernah
ada kata keluar dari mulutnya, sekali pun. Yang ada hanya tubuh kecilnya yang
bergetar hebat, dan lelehan air matanya yang menyedihkan.
Kurasa kini
aku tahu apa arti tangisnya. Mungkin sebenarnya lewat matanya itu ia ingin
mengatakan sesuatu. Mungkin saja pengingkaran terhadap semua tuduhanku. Atau ia
ingin melakukan pemberontakan atas sikap tidak menyenangkan dariku.
Akhirnya ia
bangkit. Berusaha melawan dari tempat duduknya yang tak nyaman. Dapat kulihat
usaha yang keras darinya, hanya untuk mengatakan, “Bukan aku!” Atau mungkin,
“Kamu salah duga, aku tak seperti itu!”
Namun
sekali lagi, diri ini telah terlanjur tertutupi oleh kebengisan.
_________$$$$$__________
Kejadian yang tak seharusnya terjadi itu bermula ketika
kudengar teman – temanku yang sudah banyak terjerumus ke dalam berbagai
kemaksiatan. Terutama berkaitan dengan hamil di luar nikah. Awalnya aku tenang
– tenang saja, karena aku berpikiran tak mungkin Lisa termasuk bagian dari
mereka. Namun belakangan kulihat ia selalu gelisah sendirian. Sering aku
mendapatinya seperti serasa tak nyaman. Saat rasa ingin tahuku tak terbendung,
ia hanya menjawab, “Bukan apa – apa.” Dan kemudian berlalu.
Pernah satu
ketika saat ia sedang terburu – buru berjalan entah darimana, mungkin saking
terburu – burunya sampai ia tak menyadari kehadiranku. Ia menabrakku. Barang
bawaannya yang terbungkus dalam plastik
berceceran. Sesaat kulihat ada sebuah benda semacam alat tes kehamilan
sebelum ia dengan cepat memasukkannya kembali ke dalam plastik tadi dan
kemudian pergi dengan cepatnya.
“Untuk apa
dia membawa benda seperti itu?” Pikirku.
Tapi apa
itu tadi miliknya, atau milik siapa.
Aku
mengikutinya hingga ia sampai di toilet kampus. Ia masuk ke dalam toilet, dan
aku tetap menunggu di luar di tempat yang tak terlihat olehnya tapi masih
terjangkau hingga aku masih dapat mengawasinya jika suatu saat ia keluar dari
toilet tadi.
Akhirnya ia
keluar dari toilet itu. Kulihat ia melempar sesuatu ke dalam tong sampah,
kemudian berlalu. Aku mendekati tong sampah tadi. Rupanya benda yang
dilemparnya tadi tidak sempurna masuk ke dalam tong sampah hingga termuntahkan
kembali. Kuamati dengan seksama benda itu. Betapa geramnya aku.
_________%%%%%_________
Ingin
kutumpahkan semua kata yang ada untuk mencaciku. Tak kuasa lengan ini menahan
beban kepalan tangannya sendiri hendak meninju tuannya. Dan kaki ini sepertinya
hendak melangkah kemana, tak tentu hebatnya ia bergetar. Seperti itulah
perasaanku saat ini, kurang lebih.
Terasa
sekali buatku ketika tak terdengar lagi sayup – sayup manja darinya. Sentuhan –
sentuhannya yang melembutkan irama nadi. Jantungnya yang senantiasa berusaha
berimbang dengan detak jantungku. Teramat berat rupanya untuk menerima
kenyataan pahit ini.
Aku selalu
berharap agar sang waktu melakukan kesalahan hingga ia memutar kembali
dentangannya. Atau setidaknya, aku ingin cepat dipertemukan kembali dengan
Lisa. Agar aku dapat mengucapkan kata maafku kepadanya.
Selepas
dari pemakaman Lisa hatiku begitu hancur.
Hatiku
semakin miris manakala mengetahui bahwa sebenarnya alat tes kehamilan yang
kulihat di tong sampah sial itu ternyata bukan milik Lisa. Alat itu adalah
milik Rosa, saudaranya.
Aku mengetahuinya karena Rosa sendiri yang mengatakannya
padaku saat mengunjungiku beberapa hari lalu. Ia mengaku syok karena mengetahui
dirinya telah hamil duluan akibat hubungannya dengan Rendi, pacar gelapnya. Dan
kekasih gelapnya itu urung bertanggung jawab sebagaimana janjinya dulu.
Kemudian ia menceritakan kejadiannya kepada Lisa. Lisa, yang juga syok karena
saudaranya mengalami musibah seperti itu, tak lantas membuang alat itu. Ia
justru menyimpannya sampai beberapa hari, sampai aku menemukannya. Dan dengan
tak sabaran menghabisi nyawanya.
“Aku minta maaf padamu, Roy.” Ungkap Rosa. “Mestinya aku
juga cerita sama kamu. Atau mungkin sebaiknya aku tak bercerita pada siapa pun
jika tahu begini akhirnya. Biarlah aku yang menanggung beban ini sendirian. Dan
aku yang seharusnya mati.”
“Tidak usah
minta maaf,” ujarku. “Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan menceritakan
masalahmu pada orang lain. Sebab jika tidak, kau akan tambah depresi dan
mungkin akan melakukan bunuh diri seperti yang kamu bilang barusan.”
“Kalau kamu
yang bunuh diri, bukan hanya kamu yang akan kehilangan nyawa, tapi janin yang
ada dalam kandunganmu itu pun juga. Kamu akan membunuh dua jiwa sekaligus.
Bagaiman pun, janin itu tak berdosa. Yang berdosa adalah apa yang dilakukan
oleh orangtuanya.”
Tapi demi
menyelamatkan dua jiwa itu, harus dibayar dengan raibnya satu jiwa. Ya, Lisa
telah kehilangan nyawanya karena terbunuh olehku.
Gunting itu
ada di depanku ketika gelap menguasaiku. Gunting sial itu seharusnya sudah
dibereskan sejam lalu saat kegelapan itu muncul setelah praktek kesenian di
kelas kami. Ketika Lisa berusaha bangkit setelah mendapat tekanan bertubi –
tubi dariku, yang kulihat saat itu hanya usaha untuk melawanku. Lisa beranjak,
sebuah gunting dalam jangkauanku. Kemudian terjadilah peristiwa itu.
_________@@@_________
Aku
digelandang polisi ketika kesadaranku belum sepenuhnya kembali dan gunting itu
masih tersangkut di sela – sela jemari. Lisa tersungkur di lantai. Darah begitu
deras mengucur dari perutnya. Seluruh sekolahku gempar, semua sama – sama ingin
menyaksikan kelasku yang dipasangi garis polisi. Dan para detektif polisi pun
mengerubungi jasad Lisa, membuat garis dengan kapur di sekitar tubuhnya,
sebelum menyuruh ambulans tuk membawanya pergi.
Kunjungan Rosa ke selku setidaknya memberiku pencerahan. Dan penjara ini benar
– benar memberiku pelajaran berharga dan kesempatan untuk menyadari
kebodohanku, dan menyesalinya. Penyesalan memang selalu datang menyusul.
Kini setiap
untaian kata dalam malam do’aku aku selalu berharap, mungkin saja aku masih
diberi kesempatan. Kuharap aku dapat memperbaiki hidupku nanti. Dan dalam
sujudku aku berserah diri, memohon ampun kepada-Nya agar Ia menghapus dosa –
dosaku. Dan agar aku diberi kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi sidangku pekan
depan.
Hukuman pun
telah menantiku …
29
– 09 – 2011
Written
by:
Adib
Nur Hakim